ALJIRO SMANSA dan UNDIP Gelar Youth Summit 2026, Serahkan Policy Brief Pendidikan ke Pemerintah

Salah satu program unggulan yang diluncurkan adalah Gerakan Numerasi Nasional. Program ini dirancang untuk mengubah pola pembelajaran matematika agar menjadi lebih menyenangkan, interaktif, serta tidak lagi menjadi beban bagi siswa.
“Ketika kita tanya mata pelajaran apa yang paling tidak disukai, jawabannya matematika. Karenanya kita mencoba untuk membuat bagaimana mata pelajaran matematika ini menjadi mata pelajaran yang menggembirakan,” ujar Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Pendidikan Kemendikdasmen, Ir. Moch. Abduh, MS.Ed., Ph.D.
Tak hanya penyesuaian materi, Kemendikdasmen juga memperbarui sistem asesmen menggunakan pendekatan multistage adaptive. Metode ini memungkinkan pemetaan tingkat kompetensi literasi dan numerasi siswa dilakukan secara lebih terukur dan sesuai dengan level kemampuan individu.
Dalam kesempatan tersebut, Moch. Abduh turut menyoroti pergeseran karakter pada Gen Z dibanding generasi sebelumnya. Penggunaan gawai dan pesatnya kemajuan teknologi—jika tidak disikapi secara etis dan bijak—dinilai berpotensi menurunkan daya tangguh (resilience) serta minat belajar siswa.
Fenomena lain yang menjadi perhatian serius adalah schooling without learning (sekolah tanpa belajar), yakni kondisi ketika siswa menghadiri kelas tanpa mendapatkan pemahaman materi yang bermakna. Hal ini dipicu oleh fokus tenaga pendidik yang cenderung terpaku pada pemenuhan target administratif kurikulum dan pencapaian asesmen semata.
“Anak-anak tidak banyak mendapatkan kebermaknaan dari pelajaran-pelajaran yang disampaikan. Nah, ini kita ubah pendekatannya dengan deep learning yang insya Allah akan membuat anak-anak itu belajar dengan penuh makna dan dengan sikap yang menggembirakan,” tegas Abduh.
Rendahnya pemahaman bermakna dan tergerusnya daya tangguh ini diduga menjadi salah satu penyebab maraknya fenomena jawaban “nyeleneh” siswa saat menghadapi ujian. Rasa cepat putus asa membuat siswa kerap menyerah saat menemui soal-soal yang dianggap sulit.
Guna membenahi budaya membaca yang terus menurun, pemerintah turut mengevaluasi ketersediaan bahan bacaan yang relevan dengan kebutuhan generasi muda. Saat ini, Kemendikdasmen sedang mengembangkan penyediaan buku-buku yang lebih menarik dan bermuatan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Melalui kombinasi pendekatan deep learning, pembiasaan membaca berbasis STEM, serta pembaruan sistem asesmen, pemerintah optimistis kualitas kompetensi dan daya saing peserta didik di Indonesia dapat meningkat secara berkelanjutan.
Kehangatan forum berlanjut pada sesi diskusi interaktif Youth Talks yang dipandu oleh Koeshartanto Koeswiranto. Sesi ini menghadirkan tiga narasumber lintas profesi: Direktur SDM PT Pertamina (Persero) Andy Arvianto yang membedah lanskap dunia kerja masa depan; komika sekaligus guru honorer Bang Mukmin yang mengulas realitas pendidikan dari akar rumput; serta praktisi kreatif Yoris Sebastian yang menyoroti pentingnya keahlian bertutur (meaningful storytelling) di era digital.
Sebagai puncak acara, seluruh peserta merumuskan dokumen kesepakatan berupa Policy Brief bertajuk “Pendidikan Menengah sebagai Fase Transisi Strategis: Reformasi Pendidikan Menengah untuk Generasi Siap Kerja, Sehat Mental, dan Melek Digital” untuk diserahkan kepada perwakilan kementerian terkait.
Ajang bertaraf nasional ini diakhiri dengan kampanye kreatif pembuatan konten edukasi digital bersama Duta Mental Health SMANSA 2026 serta penganugerahan pemenang SIGMA Competition dan Perception Competition. (Psw)





