Kritik Pemangkasan Anggaran Perpustakaan, Pesta Literasi 2026 Suarakan Pentingnya “Buku Bergizi”

SEMARANG, JAVAMEDIA.ID – Isu pemangkasan anggaran Perpustakaan Nasional hampir 48% dan minimnya akses terhadap bacaan berkualitas menjadi sorotan utama dalam diskusi Pesta Literasi Indonesia 2026 yang berlangsung di Gramedia Jalma Pandanaran, Semarang, Sabtu (12/9/2026). Dalam diskusi bertajuk “Gerakan Literasi Membaca Republik”, para tokoh nasional dan pegiat literasi mendesak pemerintah untuk menempatkan keberadaan “buku bergizi” sebagai kebutuhan pokok publik yang harus dijamin keterjangkauannya lewat kebijakan penganggaran serta struktur pajak yang berpihak pada rakyat.
Perhelatan tahunan yang diinisiasi Gramedia Pustaka Utama (GPU) ini mengusung semangat “Dimulai dari Semarang”. Pesta Literasi Indonesia hadir sebagai ruang temu inklusif bagi pegiat literasi, penulis, akademisi, figur publik, hingga generasi muda untuk berbagi cerita dan merumuskan perspektif kritis tentang Indonesia hari ini.
Sastrawan dan penulis novel Negeri 5 Menara, Anwar Fuadi, menilai persoalan utama literasi nasional bukan terletak pada rendahnya minat baca masyarakat, melainkan pada keterjangkauan serta ketersediaan akses bacaan. Fenomena maraknya penjualan buku bajakan di pasaran dianggap menjadi bukti nyata tingginya demand atau hasrat masyarakat untuk membaca.
“Masalah utamanya ada pada akses ketersediaan buku di daerah dan daya beli masyarakat. Banyaknya buku bajakan membuktikan bahwa masyarakat sebenarnya ingin membaca. Buku mestinya dianggap sebagai kebutuhan pokok; bukan hanya makanan bergizi, tetapi juga ‘buku bergizi’ dengan harga yang lebih terjangkau lewat penyesuaian struktur pajak,” tegas Fuadi.
Ia juga menyayangkan kebijakan pemangkasan anggaran perpustakaan daerah oleh pemerintah yang dinilai kontraproduktif dengan semangat peningkatan literasi nasional.
“Pemotongan anggaran perpustakaan itu sangat merugikan. Saat kita berupaya menumbuhkan minat baca, perpustakaan justru merupakan simpul vital dalam penyediaan buku. Anggaran tersebut sebaiknya dikembalikan, bahkan ditingkatkan untuk dampak jangka panjang,” lanjut Fuadi.
Senada dengan Fuadi, akademisi dan pakar hukum tata negara, Zainal Arifin Mochtar, mengkritik alokasi APBN yang mencerminkan minimnya “imajinasi negara” dalam membangun tradisi berpikir kritis. Pemangkasan anggaran perpustakaan, dana penelitian, hingga kompetisi sains dan debat dianggap menunjukkan minimnya keberpihakan penguasa pada pembangunan modal intelektual bangsa.
“APBN adalah cara pandang negara tentang apa yang ingin dilakukannya. Kebijakan pemotongan anggaran literasi dan penelitian memperlihatkan minimnya imajinasi penguasa terhadap teknokratisme dan tradisi berpikir kritis. Jika pola ini dibiarkan, konsekuensi buruknya terhadap kualitas sumber daya manusia akan segera kita rasakan dalam 1-2 tahun ke depan. Harus ada gerakan bersama untuk mendorong kesadaran dan mengubah imajinasi negara tersebut,” kata Zainal.
Ia menambahkan bahwa membaca harus dimaknai sebagai tindakan aktif, bukan sekadar pasif. “Buku tidak boleh berhenti hanya sebagai tumpukan kertas di atas meja. Informasi yang masuk ke pikiran harus dikonversi menjadi pemahaman, daya kritis, hingga tindakan nyata yang membawa perubahan,” ujarnya.
Selain sorotan terhadap kebijakan penganggaran negara, diskusi ini juga menyoroti pentingnya inklusivitas dan peran komunitas lokal. Editor Penerbit GPU, Andi Tarigan, mengungkapkan bahwa Pesta Literasi digelar untuk menangkap aspirasi masyarakat di daerah.
“Pesta Literasi bukan sekadar seremonial, melainkan medium untuk mendengarkan dan menyuarakan aspirasi serta keragaman perspektif dari teman-teman komunitas buku di berbagai daerah. Kunci pergerakan kami adalah kolaborasi dengan komunitas setempat,” ungkap Andi.
Sementara itu, Peneliti dan aktivis isu sosial-masyarakat, Gustika Jusuf Hatta, turut mengingatkan agar budaya membaca tidak terjebak dalam eksklusivisme atau sekadar gaya hidup di media sosial.
“Kita perlu membangun budaya membaca yang inklusif dan berkelanjutan, bukan sekadar menjadikan buku sebagai aksesori gaya hidup atau sekadar berfoto di perpustakaan. Apapun platformnya, baik komik, majalah, maupun novel populer bisa menjadi pintu masuk awal untuk menjelajahi wawasan yang lebih luas,” imbau Cucu Proklamator,Bung Hatta tersebut.
Rangkaian acara pembukaan Pesta Literasi Indonesia 2026 tersebut ditutup dengan hiburan musik dari penyanyi Fanny Soegi. Gelaran ini menjadi titik awal dari rangkaian festival literasi yang akan berlanjut ke berbagai kota lain di Indonesia. (Psw)





