Dua Atlet Gugur dalam Sepekan: Rangkaian Tragedi di Porprov Jateng 2026 Tuntut Evaluasi Ketat

SEMARANG, JAVAMEDIA.ID – Ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVII Jawa Tengah 2026 menuai sorotan tajam setelah diwarnai tragedi beruntun. Dalam kurun waktu kurang dari sepekan, dua atlet muda dilaporkan meninggal dunia saat berjuang membela daerah masing-masing. Peristiwa duka ini memicu desakan evaluasi menyeluruh terhadap standar keselamatan serta mitigasi risiko di arena pertandingan.
Kabar duka terbaru datang dari cabang olahraga pencak silat. Ayudiah Rivana Tridiandinata (19), atlet putri asal Kota Semarang, meninggal dunia saat menjalani perawatan di RS Primaya Semarang, Rabu (28/10/2026) pagi. Ia wafat berselang dua hari setelah mengalami cedera di gelanggang pertandingan.
Sebelumnya, duka mendalam juga menyelimuti kontingen Kabupaten Jepara. Syabilla Rizkia Putri Raharja (22), atlet selam yang juga mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), gugur saat mengikuti nomor open water finswimming (OWF) 3.000 meter di Pantai Awann Costa, Semarang Barat, Minggu (25/10/2026). Tragisnya, Syabilla berpulang usai sukses menyumbangkan dua medali emas dari nomor kolam 100 meter dan 200 meter bifins putri.
Dua insiden fatal ini menjadi kehilangan besar bagi dunia olahraga Jawa Tengah, sekaligus menyisakan tanda tanya besar terkait jaminan keselamatan atlet selama perhelatan pesta olahraga tingkat provinsi tersebut.
Kronologi Penanganan Medis Ayudiah
Insiden yang menimpa Ayudiah bermula saat ia bertanding di kelas A putri (45–50 kg) di arena Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Senin (26/10/2026) pukul 14.00 WIB. Almarhumah mengalami patah tulang pada jari tengah tangan kiri hingga dinyatakan kalah dalam pertandingan tersebut.
Ketua Umum KONI Jawa Tengah, Sujarwanto Dwiatmoko, menjelaskan bahwa almarhumah sempat mendapat penanganan darurat di lokasi kejadian berupa pembebatan tangan untuk menghentikan perdarahan, sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit.
“Berdasarkan keterangan yang mengantar ke rumah sakit saat kejadian, almarhumah dalam keadaan sadar,” ujar Sujarwanto di RS Primaya Semarang, Rabu siang.
Sementara itu, Direktur RS Primaya Semarang, dr. Aditya Nugraha, memaparkan bahwa pasien diterima melalui Instalasi Gawat Darurat (IGD) pada Senin sore. Setelah berkonsultasi dengan dokter spesialis ortopedi, tindakan operasi dijadwalkan dan rampung pada Selasa (27/10/2026) sekitar pukul 20.00 WIB.
Aditya menegaskan, tindakan medis tersebut tergolong operasi minor (bukan operasi besar) dan telah dijalankan sesuai prosedur baku. Kondisi Ayudiah pascaoperasi sempat dilaporkan stabil; sadar penuh, dapat berkomunikasi, hingga terpantau masih bernapas serta bergerak saat diperiksa petugas pada Rabu dini hari pukul 03.00 WIB.
Namun, kondisi berubah drastis beberapa jam kemudian. Sekitar pukul 05.30 WIB, petugas mendapati Ayudiah sudah tidak bernapas dan tidak menunjukkan denyut jantung. Padahal, berdasarkan anamnesis medis, almarhumah tidak memiliki riwayat alergi obat maupun penyakit bawaan (komorbid). Hingga kini, pihak rumah sakit menyatakan masih mendalami penyebab pasti kematian mendadak tersebut.
Kompetisi Tetap Berlanjut
Di tengah gelombang duka yang menyelimuti kontingen daerah, pihak penyelenggara memutuskan untuk melanjutkan rangkaian pertandingan. Sujarwanto menyampaikan belasungkawa mendalam atas kepergian Ayudiah dan memastikan bahwa jadwal cabang olahraga pencak silat di Unimus tetap berjalan sesuai agenda.
“Almarhumah meninggal dunia setelah dua hari dirawat di rumah sakit. Jalannya pertandingan tetap dilanjutkan,” kata Sujarwanto.
Berpulangnya Ayudiah dan Syabilla dan Syabilla Rizkia Putri Raharja meninggalkan pekerjaan rumah yang besar bagi para pemangku kepentingan keolahragaan di Jawa Tengah. Publik kini menanti langkah konkret dan evaluasi ketat dari pihak berwenang guna memastikan standar keselamatan atlet benar-benar terjamin di masa mendatang. (Psw)




