Panen Cuan! Intip Rahasia BUMDes Tuntang Sejahtera Raup Belasan Juta Sekali Panen Melon

SEMARANG, Javamedia.id – Keberhasilan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tuntang Sejahtera dalam mengelola sektor ketahanan pangan terbukti membuahkan hasil yang manis. Memanfaatkan teknologi green house, unit usaha budidaya melon di Desa Tuntang ini sukses mengantongi pendapatan bersih sebesar Rp17 juta dari total omzet Rp25 juta per sekali panen.
Rahasia di balik melesatnya omzet pertanian desa ini terletak pada pemilihan komoditas dan teknologi tanam. Pengelola Green House BUMDes Tuntang Sejahtera, Akin Andriastomo, membeberkan bahwa pihaknya sengaja membudidayakan dua varietas melon premium bertaraf internasional, yaitu sweet lavender dan sweet hami.
Kedua varietas tersebut dipilih karena memiliki keunggulan genetik pada ukuran buah yang ideal serta karakteristik rasa yang sangat manis dan renyah. Sejak awal tahun, fasilitas green house dibangun dengan modal awal Rp160 juta dari Dana Desa itu telah berhasil mengamankan dua kali siklus panen.
“Sekali panen kami mampu menghasilkan hingga 1 ton melon segar. Menariknya, tingkat kemanisan buah kami mampu menembus angka 15 brix, jauh melampaui standar pasar yang biasanya hanya berkisar di 12 brix. Kualitas premium inilah yang membuat produk kami sangat diminati masyarakat,” urai Akin.
Formulasi bisnis yang matang membuat perputaran arus kas BUMDes ini sangat sehat. Dengan biaya operasional yang efisien, yakni hanya berkisar antara Rp7 juta hingga Rp8 juta per musim tanam, pengelola mampu mengamankan margin laba bersih yang sangat tebal di setiap siklus petik.
Ekspansi bisnis Desa Tuntang ternyata tidak mandek di sektor hortikultura saja. Kepala Desa Tuntang, Muhammad Nadhirin, mengungkapkan bahwa pihaknya jeli melihat ceruk pasar lain dengan merambah sektor akuakultur dan penyediaan infrastruktur digital guna mendongkrak Pendapatan Asli Desa (PADes).
“Di sektor perikanan, investasi lele sebesar Rp100 juta mampu memproduksi 4 ton komoditas siap konsumsi dengan nilai jual mencapai Rp80 juta sekali panen. Sementara dari lini bisnis internet desa, kami telah melayani 109 pelanggan aktif yang menyumbang keuntungan bersih sekitar Rp6 juta setiap bulannya,” papar Nadhirin.
Keberhasilan BUMDes Tuntang Sejahtera dalam mengonversi Dana Desa menjadi mesin pencetak uang ini pun mendapat apresiasi tinggi dari pemerintah pusat. Saat menghadiri agenda panen raya yang dikelola BUMDes Tuntang Sejahtera pada Minggu (24/5), Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto, menilai konsep ekonomi tematik ini sangat layak menjadi role model (percontohan) nasional.
Sebagai bentuk dukungan konkret, Yandri menyatakan Kemendes PDT siap menggelontorkan dana stimulus mulai dari Rp500 juta hingga Rp2,5 miliar bagi desa produktif seperti Tuntang. Terlebih, kementeriannya kini tengah menyiapkan program Desa Ekspor yang telah mengunci komitmen pasar global di 59 negara untuk menampung komoditas unggulan daerah.
Geliat ekonomi berbasis akar rumput ini mencerminkan tren positif di wilayah sekitarnya. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermasdes) Kabupaten Semarang, Budi Rahardjo, mencatat bahwa seluruh desa yang berjumlah 208 desa di wilayahnya kini telah memiliki BUMDes aktif yang mayoritas mengandalkan sektor ketahanan pangan sebagai tulang punggung bisnis mereka. (Psw)






