Gandeng Pertamina dan PT Dirgantara Indonesia, Youth Summit ALJIRO-SMANSA Dorong Transformasi Pendidikan

SEMARANG, JAVAMEDIA.ID — Kolaborasi strategis antara dunia pendidikan dan industri mewarnai gelaran Youth & Social Issues Summit 2026 di Semarang, Jumat (21/8/2026). Didukung penuh oleh PT Pertamina (Persero) dan PT Dirgantara Indonesia, forum yang diprakarsai alumni ALJIRO–SMANSA ini menghadirkan ratusan pelajar dan pemangku kepentingan untuk merumuskan agenda transformasi pendidikan menengah Indonesia.

Mengangkat sub-tema Indonesia Future Makers, perhelatan yang berlangsung di Hotel Santika Premiere Semarang ini menjadi bagian strategis dari Reuni Akbar ALJIRO–SMANSA 2026. Lewat semboyan “Beyond Nostalgia, From School to Nation”, acara ini mengintegrasikan peran CSR Pertamina melalui pilar Pertamina Cerdas dan Pertamina Berdikari-termasuk Pertamina Youth Program (PYP)-serta kemitraan dari PT Dirgantara Indonesia untuk membekali pelajar dalam menghadapi tantangan transisi energi, industri, dan keberlanjutan ekonomi.

Sekitar 250 peserta yang terdiri atas siswa, guru, akademisi, pejabat pemerintah, perwakilan dunia usaha dan industri (DUDI), hingga alumni lintas generasi memadati ruang diskusi. Perhelatan ini dibuka secara resmi melalui pemukulan gong oleh Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Pendidikan, Ir. Moch. Abduh, Ph.D., yang hadir mewakili Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI.

Perspektif penguatan ekosistem pendidikan daerah turut disampaikan oleh Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji (’90) dan mantan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi (’90). Keduanya menyoroti pentingnya memberi kesempatan luas agar generasi muda lebih siap memasuki dunia kerja dan mengambil peran strategis menuju Indonesia Emas 2045.

Dari sudut pandang perguruan tinggi, Rektor Universitas Diponegoro Prof. Dr. Suharnomo—yang juga menjabat Ketua Komite SMAN 1 Semarang—menekankan bahwa kualitas lulusan kampus sangat bergantung pada kualitas intake di jenjang sekolah menengah. Oleh karena itu, pendidikan menengah perlu didorong agar semakin berkualitas, merata, dan inklusif demi melahirkan human capital yang berdaya saing tinggi.

Pandangan tersebut diperkuat oleh Ketua Umum ALJIRO SMANSA demisioner, Mayjen TNI (Purn.) Hendardji Soepandji (’70). Ia menegaskan bahwa keberadaan bonus demografi harus mampu dikonversi menjadi kekuatan nyata bangsa melalui investasi pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan. Kedalaman diskusi ini semakin diperkaya oleh gagasan dari para guru besar dan alumni pemerhati pendidikan, di antaranya Prof. Zainuri, Prof. Daniel, Prof. Sri Purnomo, Prof. Urip, dan Prof. Witjaksono.

Menariknya, dialog dalam Summit ini berpijak pada data lapangan yang kuat. President SDG Centre Undip, Prof. Bulan Prabawani (’95), memaparkan hasil riset berbulan-bulan berupa kajian, Focus Group Discussion (FGD), dan survei nasional yang melibatkan hampir 500 siswa SLTA dari berbagai wilayah Indonesia. Temuan riset inilah yang menjadi evidence base utama perumusan naskah National Policy Brief.

Suasana ruang acara kian dinamis saat sesi Youth Talks digelar. Sesi ini menghadirkan Yoris Sebastian (sociopreneur dan pendiri Inspigo), Mukmin (pendidik dan content creator), serta Sulaiman Sindapati (young talent yang menjabat Senior Executive Pertamina Regional Jawa Bagian Tengah). Ketiganya mengulas persiapan future skills, kreativitas, serta kecakapan anak muda dalam merespons perubahan teknologi dan industri modern.

Memasuki sesi siang, diskusi lintas sektor berlangsung interaktif dipandu oleh Koeshartanto (’80), Ketua Panitia Reuni Akbar sekaligus Ketua Umum ALJIRO–SMANSA 2026–2031. Dialog ini mempertemukan pandangan pemerintah, DUDI, akademisi, dan generasi muda untuk melahirkan solusi konkret.

“Indonesia Emas 2045 sedang kita persiapkan hari ini. Mereka yang sekarang berada di pendidikan menengah, dua dekade lagi akan menjadi pemimpin dan tulang punggung produktivitas negeri. Memperkuat mereka hari ini adalah investasi sekaligus legacy kita bersama,” tegas Koeshartanto.

Sebagai buah dari kolaborasi intelektual tersebut, Summit resmi ditutup dengan perumusan Youth Declaration 2026 dan National Policy Brief. Kedua dokumen ini mengusung Tujuh Agenda Transformasi Pendidikan Menengah yang mencakup: kesiapan masa depan (future readiness), pemerataan kualitas pendidikan, kesehatan mental, literasi digital dan AI, kemitraan DUDI, penguatan kapasitas guru, serta partisipasi aktif pemuda.

Seluruh rangkaian Youth Summit ini menyatu harmonis dengan agenda Reuni Akbar lainnya, seperti Mubes kepengurusan, Heritage Journey, revitalisasi sekolah, Legacy Tree, Culture Night, donor darah, Kelas Kita, UMKM Bazaar, hingga Fun Run 5K.

Aksi nyata ini menjadi bukti hidup dari semangat “Beyond Nostalgia, From School to Nation”—bahwa momen reuni alumni bukan sekadar ajang mengenang masa lalu, melainkan wadah menyatukan potensi lintas generasi untuk memberi kontribusi nyata bagi masa depan pendidikan Indonesia. (Psw)

Bagikan :

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *