Hadapi Inflasi dan Fluktuasi Bahan Baku, ESB Dorong Pebisnis Kuliner Semarang Lewat Teknologi Cerdas

SEMARANG-JAVAMEDIA.ID-Pertumbuhan ekonomi sektor kuliner di Jawa Tengah mencatatkan performa positif. Namun, di balik geliat tersebut, para pelaku usaha Food and Beverage (F&B) kini diperhadapkan pada tantangan lonjakan inflasi serta kenaikan harga bahan baku.

Menjawab tantangan tersebut, perusahaan penyedia sistem operasional terintegrasi F&B, PT Esensi Solusi Buana (ESB), menggelar Kopdar Racik Bisnis F&B bekerja sama dengan komunitas Tangan Di Atas (TDA) Semarang. Acara bertajuk “Meramu Strategi Tepat, Bisnis Kuliner Semakin Kuat” ini digelar untuk membekali para pengusaha kuliner lokal dengan solusi berbasis teknologi dan data cerdas.

Pertumbuhan Sektor Kuliner di Tengah Tantangan Inflasi

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah per triwulan II 2026, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum di Jawa Tengah tumbuh 12,80% secara tahunan (year-on-year). Laju pertumbuhan ini 2,2 kali lebih cepat dibandingkan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah sebesar 5,71%, serta melampaui rata-rata nasional yang berada di angka 5,29%.

Geliat ini sejalan dengan data internal ESB sepanjang Januari-Juli 2026. Merchant F&B pengguna ESB di Semarang mencatatkan pertumbuhan transaksi same-store sebesar 8,3% dan omzet naik 6,6%. Sebanyak 75,4% transaksi dilakukan secara non-tunai, dengan puncak jam sibuk terjadi pada pukul 18.00–21.00 WIB.

Namun, pertumbuhan pesat ini dibayangi oleh tren inflasi. BPS Jawa Tengah mencatat kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi penyumbang utama inflasi bulanan per Agustus 2026 dengan andil 0,28%. Secara tahunan, inflasi Jawa Tengah menyentuh angka 3,08%, yang dipicu kenaikan harga komoditas seperti daging ayam ras, cabai rawit, dan buncis.

BACA JUGA :  PGN Area Semarang Suplai Gas Bumi ke Pabrik Produsen Sepeda, Dukung Industri Ramah Lingkungan

“Pelanggan benar-benar datang kembali, namun tugas kami adalah memastikan operasional restoran tidak kewalahan dan pebisnis tetap menjaga margin usaha meski harga bahan baku fluktuatif,” ujar Gunawan, Co-Founder & CEO ESB.

Pentingnya Efisiensi Operasional dan Manajemen Stok

Menanggapi tekanan biaya bahan baku, Lead Strategist F&B Operations GASTRO F&B Consulting, Thomas Pangaribuan, menegaskan bahwa pelaku usaha tidak bisa hanya mengandalkan kelezatan rasa semata.

“Kontrol atas Cost of Goods Sold (COGS), standardisasi resep untuk menekan food waste, serta efisiensi rantai pasok dapur adalah fondasi utama agar bisnis kuliner mampu bertahan dan berkembang secara berkelanjutan,” tegas Thomas.

Pandangan senada disampaikan oleh Tadeo Christoga, Co-founder & COO Sorak Sorai, Panama Canteen, dan Babakopitiam. Menurutnya, keterbukaan data operasional secara harian menjadi modal penting dalam mengambil keputusan bisnis.

“Ketika kita tahu angka HPP dan pergerakan stok secara real-time, kita bisa mengambil keputusan promosi yang tepat tanpa harus merusak margin,” ungkap Tadeo.

Solusi Ekosistem Berbasis AI dan Cloud

Untuk membantu efisiensi tersebut, ESB memperkenalkan serangkaian ekosistem teknologi cerdas, di antaranya:

  • ESB POS: Kasir berbasis cloud terintegrasi untuk pemantauan penjualan dan perhitungan HPP otomatis.
  • ESB Order: Sistem pemesanan mandiri berbasis kode QR.
  • ESB Core (ERP): Pengelolaan stok dan rantai pasok untuk mencegah erosi margin.
  • ESB OLIN: Asisten bisnis berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memberikan panduan rekomendasi strategi promosi hingga prediksi kebutuhan stok bahan baku.
BACA JUGA :  Efek Kejut Kenaikan Pertamax: Rupiah Menguat Tajam, IHSG Kembali ke Level 6.000-an

Kegiatan di Semarang ini merupakan bagian dari rangkaian roadshow nasional ESB di 10 kota di Indonesia sepanjang tahun 2026 untuk memperkuat daya saing pengusaha F&B lokal. (psw)

Bagikan :

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *