Rumah Rusak Terdampak Proyek Pakuwon, Warga Gombel Lama Tuntut “Ganti Untung” Tiga Kali Lipat

Polusi dan Kendala Birokrasi

Selain kerusakan fisik bangunan, warga juga mengeluhkan polusi udara dan suara. Suara bising pengeboran kerap mengganggu waktu belajar dan tidur siang anak-anak hingga mereka terpaksa diungsikan. Sementara itu, debu tebal di sekitar lokasi memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan batuk, sehingga warga terpaksa menyiram jalan secara swadaya menggunakan ember.

Gombel Lama

Pengeboran Proyek Pakuwon di dekat rumah warga

Di sisi lain, warga juga menyayangkan respons pihak birokrasi lokal yang dinilai tidak berpihak kepada masyarakat terdampak. Laporan resmi yang diajukan warga melalui kepala kelurahan kerap kandas akibat alasan administratif.

“Dari pihak warga kemarin sudah sering minta tolong sama Pak Lurah…Tapi kayak dipersulitlah. Kayaknya Pak Lurah sama Pakuwon itu sudah ada permainan,” keluh Imam.

Menanggapi tidak adanya perhatian dari Pemerintah Kota Semarang, DLH, maupun pengembang, Forum Advokasi Rakyat (FAR) menyatakan komitmennya untuk mendampingi warga Gombel Lama menempuh jalur advokasi resmi.

“Selama ini saya melihat tidak ada kepedulian dari Pemerintah Kota Semarang, Dinas Lingkungan Hidup, maupun pihak Pakuwon terhadap dampak yang dialami masyarakat. FAR hadir untuk mendampingi warga agar mendapatkan hak-haknya secara adil,” pungkas Koordinator FAR, Eko Haryanto. (Psw).

Bagikan :

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *