Serap Aspirasi di Jateng, Kepala Barantin Targetkan Layanan Karantina Bebas Pungli dan Terintegrasi

SEMARANG, JAVAMEDIA.ID – Langkah cepat memangkas birokrasi dan menindak tegas praktik pungutan liar terus dipacu oleh Badan Karantina Indonesia. Bertemu dengan lebih dari 40 perusahaan ekspor-impor asal Jawa Tengah, Sabtu (22/8/2026), Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), Abdul Kadir Karding, secara terbuka menyerap kendala lapangan demi memastikan alur perizinan komoditas nasional berjalan lebih transparan, efisien, dan serba digital.
Pertemuan tersebut dikemas dalam forum Penjaringan Aspirasi Masyarakat (Jaring Asmara) yang diselenggarakan oleh Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Jawa Tengah. Langkah strategis ini dilakukan guna menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo Subianto dalam memaksimalkan penerimaan devisa negara melalui peningkatan kuantitas dan kualitas ekspor.
“Hari ini, walaupun hari libur, kami manfaatkan untuk berdiskusi dengan para pelaku usaha. Kami ingin mendengar langsung apakah ada regulasi atau pelayanan karantina yang selama ini dianggap belum mendukung kelancaran perdagangan,” ujar Karding di Semarang.
Dalam forum tersebut, Karding membeberkan sejumlah fokus perbaikan layanan. Pertama, optimalisasi sistem satu data agar proses pelayanan lebih cepat dan tidak mengalami kendala teknis. Kedua, penetapan batas waktu (time limit) untuk memastikan proses inspeksi fisik berjalan tepat waktu. Ketiga, penegasan komitmen zero tolerance terhadap segala bentuk pungutan liar (pungli) dan praktik curang seperti under invoicing.
Pengetatan pengawasan mutu juga menjadi sorotan, terutama terkait standar ekspor yang ditetapkan oleh negara tujuan. Hal ini dirasakan langsung oleh para eksportir sarang burung walet yang tengah menghadapi tantangan berat akibat semakin ketatnya regulasi dari pemerintah Tiongkok, khususnya pada parameter uji laboratorium kadar aluminium dan nitrit.
Direktur PT Bayu Citra Abadi, Henri, mengungkapkan bahwa pengetatan standar tersebut berdampak pada penghentian sementara (suspend) izin ekspor bagi sejumlah pelaku usaha.
“Persyaratan dari Cina semakin lama semakin sulit. Kami dituntut untuk terus meningkatkan kualitas produk dengan batasan hasil tes laboratorium yang sangat ketat. Satu kali saja tidak lolos, langsung kena suspend,” ujar Henri yang hadir bersama mitranya, Joko, dari PT Waleta Asia Jaya Besar.
Henri menyebutkan, sekitar 50 hingga 60 kilogram produk walet miliknya tertahan akibat keterlampauan ambang batas pada salah satu pengiriman (batch) tahun lalu. Untuk memulihkan status ekspornya, ia bersama pengusaha lain kini memperketat pengawasan mutu dari hulu ke hilir—mulai dari rumah burung walet di sumber bahan baku seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatra, hingga ke proses pengolahan akhir.
Meski menghadapi tantangan berat di negara tujuan, Henri mengapresiasi dukungan otoritas di dalam negeri. Ia menilai proses perizinan di Badan Karantina berjalan sangat baik dan responsif.
“Sistemnya sudah berbasis online 24 jam. Biasanya dalam dua hingga tiga hari petugas sudah datang untuk memeriksa barang. Kami berharap masalah suspend ini bisa segera diangkat agar aktivitas ekspor kami kembali normal,” tuturnya.
Menanggapi kendala tersebut, Barantin berkomitmen memberikan pendampingan intensif agar pelaku usaha dapat segera menyesuaikan diri dengan standar internasional. Terlepas dari hambatan di sektor walet, Karding mengapresiasi kinerja perdagangan luar negeri Jawa Tengah yang tetap menunjukkan tren pertumbuhan yang kuat.
Data terakhir mencatat nilai ekspor wilayah ini telah menembus Rp10,9 triliun. Capaian tersebut didominasi oleh komoditas unggulan seperti gula merah, salak, produk olahan kayu, serta sarang burung walet.
“Secara keseluruhan neraca perdagangan Jawa Tengah sangat bagus dan terus mengalami peningkatan. Lewat masukan di Jaring Asmara ini, kami pastikan seluruh pelayanan karantina akan semakin solid untuk mendukung daya saing komoditas lokal di pasar global,” tutup Karding. (psw).





