Tantang Mahasiswa Undip, Abdul Kadir Karding: Hasil KKN Jangan Hanya Berakhir di Rak

SEMARANG, JAVAMEDIA.ID Menyelesaikan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan mengantongi nilai kelulusan bukanlah akhir dari sebuah pengabdian. Di hadapan ribuan mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip), Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding menekankan bahwa dunia kerja saat ini membutuhkan pemecah masalah nyata, bukan sekadar lembar ijazah. Ia pun menantang para mahasiswa untuk mengolah temuan lapangan selama di desa menjadi portofolio, penelitian terapan, hingga peluang usaha yang berdampak luas.

Pesan penuh daya dorong itu digaungkan Karding saat menghadiri Upacara Penarikan Kembali dan Gelar Karya Mahasiswa KKN Undip di Semarang, Jawa Tengah, pada Jumat (21/8/2026). Di depan lebih dari 9.000 mahasiswa yang baru saja menyelesaikan pengabdian di 453 desa yang tersebar di 10 kabupaten/kota, Karding mengingatkan agar pengalaman berharga tersebut tidak menguap begitu saja setelah seremoni usai.

“Jangan biarkan hasil KKN hanya menjadi laporan yang berakhir di rak. Skripsi yang baik adalah portofolio awal kemampuan analisis dan solusi,” ujar Karding menegaskan.

Bagi Karding, pelosok desa adalah laboratorium kehidupan yang paling jujur. Di sanalah teori-teori yang dipelajari di bangku kuliah diuji secara langsung melawan realita. Berbagai tantangan warga mulai dari persoalan sanitasi, stunting, keterbatasan pasokan energi, hingga lesunya produktivitas UMKM seharusnya dipandang sebagai bahan baku utama untuk melahirkan inovasi.

Pendekatan tersebut terbukti dari sejumlah karya yang dipamerkan mahasiswa. Sentuhan teknologi sederhana mampu menjawab persoalan krusial warga, seperti alat penjernih air sumur penyaring zat besi dan mangan di wilayah tambang. Tak hanya menyelesaikan masalah air bersih, inovasi ini bahkan menyimpan potensi ekonomi dengan proyeksi omzet Rp 7,5 juta hingga Rp 10 juta per bulan.

Solusi aplikatif lainnya terpancar dari pemanfaatan limbah serbuk kayu dan batok kelapa menjadi briket biomassa sebagai energi alternatif, hingga pemetaan risiko bencana berbasis Web GIS untuk pemerintah daerah. Bagi Karding, deretan karya ini membuktikan bahwa solusi untuk masyarakat tak selalu membutuhkan teknologi yang rumit, melainkan kepekaan membaca masalah dan keberanian mengeksekusi pengetahuan.

Ia berharap kepulangan mahasiswa ke kampus menjadi titik awal lahirnya skripsi terapan, prototip baru, hingga unit bisnis mandiri. Pada akhirnya, perguruan tinggi tak sekadar mencetak pencari kerja, tetapi juga melahirkan pembuka lapangan kerja baru yang berintegritas, adaptif, dan berwawasan luas. (Psw)

Bagikan :

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *